Irak Tahun 2004

Saat ini, gereja-gereja di Irak sekali lagi menjadi sasaran tindak kekerasan. Hal ini menjadi perhatian bagi lembaga-lembaga pemberi bantuan dan organisasi-organisasi misi, salah satunya adalah International Aid (IA). Menurut perwakilan dari IA, "Elemen radikal di Irak sedang berusaha untuk mengusir orang-orang Kristen agar keluar dari Irak, terutama menjelang pemilu di bulan Januari mendatang.

Jika hal tersebut benar-benar terjadi, maka pengusiran tersebut dapat memberikan dampak kepada pelayanan dari organisasi- organisasi Kristen di Irak, termasuk IA. Namun, untuk saat ini, hal tersebut belum terjadi. IA mempunyai empat klinik yang aktif di Irak, dan keempatnya menjadi alasan bagi adanya gereja Kristen di Irak karena semua dokter dan perawatnya adalah orang-orang Irak yang beragama Kristen. Perwakilan IA juga mengatakan bahwa ancaman itu belum mempengaruhi pelayanan mereka. "Para dokter dan tim medis Kristen masih bertahan di Irak. Namun, mereka menyadari bahwa risiko yang mereka hadapi pasti akan bertambah besar saat pemilu semakin mendekat."

Sumber: Mission Network News, October 19th, 2004



  • Naikkan syukur atas keberadaan para dokter dan staf medis Kristen yang saat ini masih bertahan di Irak. Doakan agar Allah menguatkan iman mereka saat menghadapi ancaman yang semakin meningkat menjelang pemilu di Irak.

  • Berdoa supaya tim medis dan umat Kristen yang saat ini masih di Irak tetap dapat menerapkan kasih Allah bagi masyarakat di sekelilingnya meskipun lingkungan mereka tidak mendukung.

e-JEMMi 43/2004



Situasi keamanan di Irak banyak mempengaruhi lingkungan gereja- gereja Kristen di Irak. Banyak anggota gereja yang meninggalkan negaranya mengungsi ke negara lain. Di lain pihak, ada pula pertambahan anggota di tempat-tempat yang relatif lebih aman karena pengungsian penduduk dari daerah yang kurang aman.

Jemaat gereja di kota Baghdad merupakan jemaat terbesar. Mereka masih memiliki anggota sebanyak 235 keluarga dan ratusan anak-anak. Di tengah-tengah situasi keamanan yang genting ini, Tuhan tetap bekerja dan sebuah persekutuan kecil di kota Suleymania mulai terbentuk.

Pada saat ini, gereja memiliki peranan yang cukup penting di Irak. Karena alasan keamanan, penduduk Irak tidak berani bepergian jauh- jauh, sehingga satu-satunya tempat aman dimana anak-anak mereka bisa memberi pendapat, pendidikan, dan perlindungan adalah dengan mengirimkan mereka ke gereja. Beberapa gereja di Baghdad, Mosul, dan Kirkuk juga telah mendirikan klinik untuk memberi pengobatan kepada kaum miskin tanpa memandang agama mereka.

Atas inisiatif pemimpin-pemimpin Agama yang moderat, hampir semua gedung gereja mendapat perlindungan dari militia lokal. Karena hal ini, konsentrasi jumlah penduduk di sekitar gereja juga meningkat karena banyak keluarga yang tinggal di dekat gereja membuka rumah mereka untuk menampung keluarga-keluarga lain.

Keselamatan orang-orang Kristen di Irak menjadi terancam karena mereka memberi tempat tinggal bagi misionaris dari Barat dan dari Korea yang datang membanjiri negara mereka setelah pasukan sekutu berhasil menduduki kota Baghdad. Tindakan ini dianggap oleh kelompok-kelompok non-Kristen militan sebagai pengkhianatan akan negara dan bahkan dituduh sebagai mata-mata. Namun demikian Tuhan menjawab doa-doa orang Kristen di seluruh dunia dengan memberi keberanian kepada seorang uskup tinggi dari gerakan Shiite yang mengeluarkan sebuah fatwa bahwa "Orang-orang Kristen Irak adalah warga negara yang setia dan berhak mendapat perlindungan seperti yang diterima oleh orang-orang Muslim yang baik." Deklarasi ini mendapat dukungan dari perkumpulan cendikiawan Islam Sunni.

Sumber: Middle East Reformed Fellowship newsletter, Edisi 4/Vol.17



  • Keselamatan dan perlindungan bagi orang-orang Kristen di Irak dan para misionaris dari Barat yang saat ini melayani di Irak.

  • Naikkan syukur untuk fatwa yang telah dikeluarkan oleh uskup tinggi dari gerakan Shiite yang juga didukung oleh perkumpulan cendekiawan Islam Sunni. Berdoa supaya melalui fatwa ini orang- orang Kristen lebih mendapat perlindungan dan kebebasan.

e-JEMMi 39/2004

Kategori

  • Irak 2004
  • Komunitas Kristen
  • Ancaman kekerasan
  • Fatwa perlindungan
  • Peran gereja
  • Bantuan kemanusiaan
  • Komunitas Kristen di Irak menghadapi ancaman kekerasan dan upaya pengusiran dari kelompok radikal, terutama menjelang periode pemilihan umum.
  • Meskipun risiko tinggi, pelayanan gereja tetap berjalan berkat dedikasi para dokter dan staf medis Kristen lokal, yang juga menjadikan gereja sebagai pusat perlindungan dan pendidikan komunitas.
  • Kondisi keamanan yang genting menyebabkan gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial, klinik pengobatan, dan tempat tinggal sementara bagi warga yang mengungsi.
  • Keamanan umat Kristen dan misionaris asing dalam bahaya, namun situasi mendapat dukungan perlindungan politik melalui fatwa yang dikeluarkan oleh uskup tinggi Syiah, yang juga didukung oleh cendekiawan Islam Sunni.

Situasi keagamaan dan keamanan di Irak pada tahun 2004 sangat genting, di mana gereja-gereja Kristen menjadi sasaran kekerasan dan ancaman pengusiran oleh elemen radikal, terutama menjelang pemilu. Meskipun demikian, komunitas Kristen menunjukkan ketahanan yang luar biasa melalui keberlangsungan layanan medis dan pendidikan yang dijalankan oleh dokter dan perawat lokal. Gereja juga berperan krusial sebagai tempat perlindungan bagi penduduk yang tidak berani bepergian. Di tengah meningkatnya ketegangan, terutama terkait kehadiran misionaris Barat yang dianggap pengkhianatan oleh kelompok militan, keselamatan umat Kristen mendapatkan perlindungan signifikan berkat fatwa dari seorang uskup tinggi gerakan Syiah yang menyatakan bahwa orang Kristen Irak adalah warga negara yang setia dan berhak atas perlindungan, sebuah deklarasi yang didukung oleh cendekiawan Islam Sunni.