Leonard Dober bertanya-tanya apakah Yesus berpikir bahwa salibnya terlalu berat; kemudian dia teringat bagian akhir doa Yesus di taman, "Bukan kehendak-Ku, tapi kehendak-Mu, Bapa." Tugas Leonard sepertinya tidak mungkin untuk dilakukan, tapi dia sedang melakukan kehendak Allah, bukan kehendaknya.
Leonard Dober yakin bahwa Allah telah memanggilnya untuk menjangkau para budak di Virgin Islands. Dia berencana untuk menjangkau orang-orang ini dengan menjual diri menjadi budak dan bekerja bersama mereka sambil menceritakan tentang kasih Yesus kepada mereka. Dia begitu takut memikirkan bahwa dia akan menjadi budak. Dia ngeri membayangkan perlakuan yang akan diterimanya. "Tapi Kristus telah mati di atas kayu salib bagiku," pikirnya. "Tidak ada harga yang terlalu tinggi untuk melayani Dia."
Penganiaya terkejam yang dihadapi Dober bukanlah para pemilik budak, tetapi orang-orang Kristen. Mereka mempertanyakan panggilannya untuk melayani para budak dan menertawakannya sebagai orang bodoh karena rencananya itu. Tapi Dober tidak menyerah. Pada tahun 1730, dia sampai di Virgin Islands.
Ketika dia menjadi pelayan di rumah gubernur, dia takut posisinya ini akan menjauhkannya dari para budak yang ingin dilayaninya. Jadi dia pergi dan pindah dari rumah gubernur ke gubuk kotor di mana dia dapat bekerja bersama-sama dengan para budak.
Dalam waktu tiga tahun, pelayanan Dober sudah mencakup lebih dari tiga belas ribu petobat baru.
"Orang-orang sinting Yesus", itulah julukan dunia bagi orang-orang yang memiliki iman yang sedikit radikal. Dober adalah "orang sinting Yesus" pada abad delapan belas -- orang bebas yang memilih menjadi budak agar dapat memenangkan para budak bagi Yesus. Dia bersedia melakukan semua yang harus dilakukan untuk menunjukkan kesungguhan hatinya dalam melayani Yesus. Bagi Dober, hal ini berarti membuat suatu rencana yang tidak masuk akal bagi orang lain kecuali dirinya sendiri. Apakah Anda juga disingkirkan karena Anda telah menolak untuk mengikuti orang banyak? Jika Allah telah memanggil Anda untuk melakukan hal yang radikal dalam keluarga, gereja, atau komunitas Anda, Anda harus menaatinya. Biarkan orang menyebut Anda gila, tetapi Yesus akan mendapati Anda sebagai orang yang bersungguh- sungguh.
Diambil dan diedit seperlunya dari:
| Judul buku | : | Devosi Total |
| Judul asli | : | Extreme Devotion |
| Judul artikel | : | Virgin Islands: Leonard Dober |
| Penulis | : | The Voice of The Martyrs |
| Penerbit | : | KDP, Surabaya 2005 |
| Halaman | : | 199 |
Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/virgin_islands_leonard_dober
Kategori
Kolom Publikasi
- Printer-friendly version
- Log in to post comments
- Leonard Dober
- Virgin Islands
- Devosi Total (Extreme Devotion)
- Pelayanan Radikal
- Kesaksian Misionaris
- Perbudakan (Sebagai sarana pelayanan)
- Kehendak Allah
- Inspirasi Dober berasal dari pemahaman akan kasih dan pengorbanan Yesus Kristus, yang menjadi fondasi untuk pelayanannya.
- Dober menjalankan misi radikal untuk menjangkau para budak di Virgin Islands dengan cara yang sangat tidak konvensional: menjadi budak sendiri.
- Ia menghadapi penolakan dan cibiran dari orang Kristen lain, namun imannya mendorongnya untuk tetap setia pada panggilan Tuhan.
- Kisah ini mengajarkan bahwa untuk mengikuti panggilan Tuhan, kita harus berani mengambil langkah yang radikal, meski dianggap gila atau aneh oleh banyak orang.
- Komitmen Dober terbukti sangat berhasil, menghasilkan pertobatan lebih dari tiga belas ribu orang dalam waktu singkat.
Artikel ini mengisahkan tentang Leonard Dober, seorang misionaris yang didorong oleh refleksi atas pengorbanan Yesus di salib, untuk menunaikan panggilan ilahi menjangkau para budak di Virgin Islands. Meskipun menghadapi ketakutan pribadi dan penganiayaan dari sesama Kristen yang meremehkannya, Dober mengambil langkah radikal dengan menjual diri menjadi budak. Dedikasi total ini membawanya untuk tinggal di lingkungan para budak, tempat ia berhasil menceritakan kasih Kristus dan dalam waktu tiga tahun, mencatatkan lebih dari tiga belas ribu orang pertobat baru. Kisahnya menjadi peringatan bahwa dalam melayani Tuhan, kita harus siap mengambil panggilan yang radikal, sekalipun harus bertentangan dengan pandangan umum.