Seorang Mantan Ateis

Aku tumbuh dalam keluarga non-Kristen. Ayahku adalah seorang ateis dan ibuku adalah orang Kristen yang telah berpaling dari Tuhan -- kurasa karena ia menikahi Ayah. Bagaimanapun, aku tumbuh sebagai seorang ateis. Aku tidak pernah pergi ke gereja atau sekolah minggu, tidur sampai jam makan siang pada hari Minggu, dan membenci semua orang Kristen yang kuanggap bodoh.

Saat remaja, aku mengalami masa-masa sulit karena beberapa masalah yang tidak akan kuceritakan -- karena akan membuat Anda bosan -- dan aku berpikir bahwa hidup akan lebih mudah dijalani jika aku membuang semua perasaan dan memutuskan hubungan dengan orang lain. Saat itu aku berusia sebelas tahun.

Aku menghabiskan sepuluh tahun masa hidupku untuk mencapai apa yang kupikirkan itu dan juga mencoba untuk mencari arti hidup. Aku melalui masa-masa iseng, di mana aku menjadi sangat fanatik pada suatu subjek, dan kemudian melupakannya saat aku menyadari bahwa subjek itu tidak dapat mengenyangkan rasa lapar jiwaku. Aku tidak memiliki banyak teman di sekolah, dan orang-orang yang berhubungan denganku menganggapku sebagai sumber bencana.

Aku berhenti sekolah setelah tidak lulus ujian masuk perguruan tinggi, dan kemudian mendapat pekerjaan sebagai teknisi kimia di Departemen Penelitian Ilmiah dan Industri New Zealand (New Zealand Department of Scientific and Industrial Research). Karena telah memiliki penghasilan, aku pergi dari rumah dan tinggal di sebuah rumah seorang diri. Aku pergi bekerja dan bersekolah malam di sebuah politeknik setempat di mana aku tidak bicara dengan siapa pun. Tujuanku telah tercapai -- hidupku hampa dari segala emosi dan kontak berarti dengan orang lain. Menyebalkan.

Tahun kedua bersekolah malam, aku memerhatikan ada seorang pria di kelas yang mencoba untuk berbicara denganku. Sebenarnya ia telah mencoba berbicara denganku tahun lalu, namun hidupku terlalu kacau untuk memerhatikannya. Untungnya ia adalah tipe orang yang penyabar. Ia adalah orang Kristen, dan ia mengundangku untuk bersama-sama menginjili. Aku hampir memukulnya. Setelah itu, ia hanya mencoba untuk menjadi teman dan tak lagi membicarakan soal penginjilan.

Saat aku mulai memercayainya, kami mulai mengobrol tentang hidup dan hal-hal semacamnya. Aku menyadari bahwa segala hal tentang orang Kristen yang dikatakan padaku saat bertumbuh dewasa, tidaklah benar. Aku mulai bertanya kepadanya tentang imannya, dan ia pun menjawab -- jawaban yang tak mendesakku untuk menjadi Kristen.

Setelah beberapa tahun, aku menyadari bahwa pandangannya lebih masuk akal daripada pandanganku. Aku mulai membaca Alkitab yang ia berikan, dan suatu malam saat aku sendirian di kamar, aku menyadari bahwa firman Tuhan itu benar, dan aku adalah orang terbodoh di dunia. Aku bersujud dan memohon agar Tuhan berkuasa atas hidupku.

Ibuku telah kembali menjadi Kristen sehingga keluargaku terbagi menjadi dua kubu; Ibu dan aku adalah Kristen, sedang Ayah dan saudaraku ateis. Menjadi Kristen memang tidak menyelesaikan masalahku, tapi hal itu membantuku memahami masalah dan membuka jalan untuk Tuhan mulai memulihkanku dari masa laluku.

Setelah beberapa tahun, aku mulai belajar di sekolah Alkitab pada malam hari untuk belajar lebih lagi mengenai Tuhan. Aku belajar di sana selama dua tahun, namun kemudian aku merasa terlalu berat untuk bekerja, belajar Alkitab saat malam, dan melayani di gereja dan departemen pemudanya pada saat bersamaan. Aku keluar dari pelayanan di gereja selama beberapa bulan dan gagal dalam salah satu mata pelajaran di sekolah Alkitab. Aku ingin memakai hidupku ini untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan, tapi tidak tahu akan melakukan apa.

Setelah perjuangan yang cukup lama dan pencarian jati diri, aku berhenti kerja dan melamar sebagai anggota medis pemuda di gerejaku. Aku beralih dari mengejar gelar diploma teologi ke gelar diploma pelayanan medis, yang lebih banyak praktiknya. Aku mencoba untuk tidak terlalu fokus belajar mengenai Tuhan dan lebih fokus untuk mengikut Tuhan. Sejauh ini, aku menikmatinya, namun aku tahu bahwa mengikut Tuhan adalah perjalanan seumur hidup. Perjalananku masih panjang.

Menurutku, temanku saat di politeknik itu adalah penginjil terhebat yang pernah kutemui. Ia tidak pernah sekolah Alkitab atau mengikuti pelatihan Alkitab resmi, dan ia juga berkata bahwa aku jauh lebih mengerti tentang teologi daripada dia. Namun, ia memiliki kasih terhadap Tuhan yang membuatku masih terkesima hingga kini. (t/Dian)

Diterjemahkan dari:

Nama Situs : Darkness to Light
Penulis : Darren "Daz" Gedye
Alamat URL : http://www.dtl.org/salvation/article/testimony/ex-atheist.htm

e-JEMMi 03/2008

Kategori

Kolom Publikasi

  • Ateis
  • Kesaksian hidup
  • Pertobatan
  • Kehidupan spiritual
  • Pencarian makna hidup
  • Pelayanan gereja
  • Iman Kristen
  • Penulis tumbuh dalam lingkungan keluarga ateis, menjalani masa remaja dengan kekosongan emosional dan perjuangan mencari makna hidup.
  • Perubahan hidup dimulai ketika penulis bertemu seorang teman sekelas beriman yang mengajaknya mengenal Tuhan, meskipun awalnya ia sangat skeptis.
  • Titik balik spiritual terjadi setelah ia mulai mempertanyakan keyakinan lamanya dan menyadari kebenaran firman Tuhan melalui Alkitab.
  • Setelah bertobat, penulis menghadapi perjuangan dalam mengintegrasikan iman dengan kehidupan profesional dan pelayanan, termasuk kegagalan dalam studi Alkitab.
  • Akhirnya, ia mengubah fokus dari mengejar gelar teologi menjadi pelayanan praktis (medis), memahami bahwa mengikuti Tuhan adalah perjalanan seumur hidup yang membutuhkan kasih dan dedikasi.

Artikel ini merupakan sebuah kesaksian pribadi tentang perjalanan hidup penulis dari seorang ateis menjadi seorang Kristen. Setelah tumbuh dalam lingkungan ateis dan menjalani masa remaja yang penuh kekosongan emosional serta pencarian makna hidup, titik balik terjadi saat ia bertemu seorang teman sekelas yang sabar dan beriman. Awalnya menolak, penulis perlahan mulai meragukan pandangan ateistiknya dan akhirnya menemukan kebenaran melalui Alkitab. Meskipun pertobatannya membawa pemahaman spiritual yang mendalam, perjalanan iman ini bukannya menyelesaikan semua masalah, melainkan membuka jalan untuk pemulihan diri. Setelah melalui pergulatan dalam studi teologi dan pelayanan gereja, penulis akhirnya menemukan panggilan barunya, yaitu berfokus pada pelayanan medis, menyadari bahwa mengikut Tuhan adalah perjalanan seumur hidup yang lebih penting daripada sekadar gelar akademis.