Orang Komoros hidup di kepulauan di Samudera Hindia antara Madagaskar dan Mozambik, Afrika. Tempat tinggal orang Komoros terdiri dari empat pulau utama dan beberapa pulau kecil lainnya. Masyarakat Komoros dapat ditemukan di pulau-pulau tersebut dan Madagaskar. Kelompok-kelompok orang Komoros yang berbeda-beda tersebut menamai diri mereka sesuai dengan nama pulau tempat mereka tinggal.
Nama resmi kepulauan tersebut adalah Republik Federal Islam Komoros. Hingga tahun 1975, kepulauan itu adalah milik Perancis. Pada saat itu, tiga pulau terbesar menyatakan kemerdekaannya; namun Mayotte, pulau terbesar keempat, memilih tetap menjadi koloni Perancis.
Orang-orang Komoros adalah hasil percampuran orang-orang yang dulu tinggal di sana: para pedagang Iran, orang Afrika, Arab, dan orang Malagasy. Karena keadaan ekonomi yang buruk, pulau-pulau tersebut menerima bantuan moneter dan teknis dari negara-negara lain.
Seperti Apakah Kehidupan Mereka?
Sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani atau nelayan, sedangkan beberapa orang lainnya memelihara ternak, domba, kambing, dan keledai. Sebagian kecil lainnya bekerja di industri atau pekerjaan yang berhubungan dengan pariwisata. Kepulauan Komoros sangat miskin dan terbelakang.
Makanan pokok orang Komoros terdiri dari nasi, kentang, jagung, ikan, kelapa, dan pisang. Hasil pertanian lain yang dikembangkan adalah ketela, buah jeruk, dan nanas.
Meskipun para pemudanya mengenakan busana bergaya Barat, namun pakaian tradisional masih umum dipakai oleh orang-orang dewasa. Di kota, seorang pria Komoros pada umumnya mengenakan pakaian berbahan katun warna putih dan baju yang panjangnya sampai ke lutut. Ketika pergi ke luar kota, dia mengenakan kain sarung yang panjang (semacam rok yang berwarna-warni). Sebagian besar kaum wanita mengenakan pakaian katun yang panjang dan berwarna-warni dengan syal berwarna terang sebagai penutup muka. Kaum wanita yang lain lebih suka mengenakan jubah hitam yang menutupi kepala mereka.
Poligami (kebiasaan memiliki lebih dari satu suami/istri) merupakan tindakan yang bisa diterima oleh orang Komoros. Anak-anak diharapkan bisa membantu bertani, mencari ikan, dan memelihara hewan. Sebagai hiburan, orang Komoros suka menari, menyanyi, dan bermain musik, khususnya trompet dan drum.
Sekitar 27% orang Komoros hidup di kota; tapi baik di desa atau daerah pinggiran, perumahan di daerah itu biasanya berkualitas rendah. Walaupun bahasa Perancis dan bahasa Arab merupakan bahasa resmi daerah itu, orang Komoros berbicara dengan dialek Swahili.
Apa Kepercayaan Mereka?
Orang Komoros adalah orang Muslim Shafiite, namun jumlah orang yang pergi ke masjid sangat sedikit. Selain melakukan ritual-ritual islami, mereka juga terlibat dalam kegiatan okultisme dan pemanggilan roh orang mati.
Pada awalnya, orang Komoros sangat menentang segala jenis perubahan agamawi. Namun, lama-kelamaan, mereka mulai membuka diri terhadap hal baru.
Apa Kebutuhan Mereka?
Kebutuhan jasmani orang Komoros sangat banyak. Masalah utama orang Komoros meliputi kemiskinan, sakit-penyakit, dan kelaparan. Tingkat pendidikannya rendah dan 54% penduduknya buta huruf.
Jumlah rumah sakit dan dokter sangat sedikit. Banyak orang yang sakit dan mengalami kekurangan gizi yang kronis. Karena persediaan air kurang, kondisi kesehatan pun kurang baik. Masalah-masalah tersebut menambah tingginya tingkat kematian, khususnya anak-anak.
Kebutuhan rohani orang Komoros justru lebih besar daripada kebutuhan jasmaninya. Meskipun ada kebebasan beragama di daerah tersebut, penginjilan tidak diterima dengan baik oleh orang-orang Muslim Shafiite. Komitmen mereka terhadap Islam, disertai dengan keterkaitannya dengan praktik okultisme, membuat orang-orang tersebut sulit untuk dijangkau.
Sumber-sumber Kristiani begitu terbatas. Akibatnya, orang percaya di Komoros masih sedikit. Doa adalah langkah awal agar mereka dapat terjangkau melalui Kabar Baik yang menyatakan bahwa Yesus Kristus datang untuk membebaskan mereka.
Pokok Doa
- Mintalah kepada Tuhan untuk memanggil orang-orang yang bersedia pergi ke Kepulauan Komoros dan memberitakan Injil kepada orang Komoros.
- Mintalah kepada Tuhan untuk memberikan hikmat dan pertolongan bagi badan-badan pelayanan misi agar mengarahkan sasarannya kepada orang Komoros.
- Berdoalah agar Tuhan menyatakan diri-Nya kepada orang Komoros melalui mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan.
- Berdoalah agar Tuhan memberi keberanian kepada orang-orang Komoros yang percaya, untuk menceritakan tentang Yesus kepada bangsanya.
- Mintalah agar Allah mengambil alih kekuasaan rohani yang membelenggu orang Komoros.
- Mintalah kepada Tuhan agar mengirimkan tim medis untuk bekerja dan melayani di tengah-tengah orang Komoros. (t/Setyo)
| Diterjemahkan dari: | ||
| Nama situs | : | Joshua Project |
| Penulis | : | Tidak dicantumkan |
| Alamat URL | : | https://joshuaproject.net/people_groups/19403/CN |
| Sumber | : | e-JEMMi 11/2008 |
Edisi e-JEMMi
Kategori
Kolom Publikasi
- Printer-friendly version
- Log in to post comments
- Komoros
- Samudera Hindia
- Muslim Shafiite
- Kemiskinan
- Budaya Komoros
- Swahili
- **Asal Usul dan Demografi:** Masyarakat Komoros merupakan perpaduan etnis yang berasal dari para pedagang Iran, Afrika, Arab, dan Malagasy, tinggal di empat pulau utama di Samudera Hindia.
- **Ekonomi dan Kehidupan Sehari-hari:** Mereka sebagian besar hidup dari sektor pertanian (seperti nasi, kelapa, dan pisang) dan perikanan, namun wilayah tersebut masih sangat miskin dan tertinggal.
- **Budaya dan Bahasa:** Komunitas ini memiliki budaya tradisional yang kuat dalam berpakaian dan adat istiadat, sementara bahasa resminya adalah Prancis dan Arab, namun dialek yang digunakan adalah Swahili.
- **Kondisi Sosial dan Spiritual:** Meskipun secara religius mereka adalah Muslim Shafiite, praktik mereka juga melibatkan unsur okultisme. Kondisi mereka diperparah oleh kemiskinan parah, rendahnya pendidikan, dan kurangnya layanan kesehatan.
Orang Komoros adalah masyarakat yang tinggal di Kepulauan Komoros di Samudera Hindia, merupakan campuran etnis dari pedagang Iran, Afrika, Arab, dan Malagasy. Secara geografis, mereka sangat miskin dan terbelakang, dengan mata pencaharian utama sebagai petani dan nelayan yang menanam nasi, kentang, dan kelapa. Meskipun secara budaya mereka memiliki pakaian dan adat istiadat yang kental, kehidupan sehari-hari mereka menghadapi tantangan besar berupa kemiskinan, tingkat buta huruf yang tinggi, dan kurangnya fasilitas kesehatan. Secara keagamaan, mayoritas adalah Muslim Shafiite, namun praktik mereka mencakup unsur okultisme, membuat mereka sulit dijangkau secara rohani. Sumber artikel menyoroti bahwa kebutuhan rohani mereka sangat besar, menuntut perhatian dan doa agar Injil dapat disebarkan kepada mereka.