"Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." (Kejadian 12:2?├Â?├º??3).
- Kejadian 12:1-3
Ketika Adam melanggar perjanjian kerja, seluruh umat manusia diusir dari hadirat kemurahan Allah. Namun, Tuhan tidak puas meninggalkan kita dalam keadaan seperti itu. Sebaliknya, Ia memberlakukan perjanjian kasih karunia yang akan memperbaiki pelanggaran Adam. Perjanjian kasih karunia ini terbentang melalui serangkaian perjanjian yang lebih kecil berturut-turut. Yang pertama adalah perjanjian Nuh, yaitu saat Allah berjanji untuk menjaga stabilitas alam sehingga Dia bisa melaksanakan rencana penebusan-Nya.
Tidak ada tokoh Perjanjian Lama yang lebih terkait dengan perjanjian kasih karunia selain Abraham. Kepada orang inilah, Tuhan pertama kali menjelaskan bahwa dari Dia akan dijadikan umat yang besar milik kepunyaan-Nya sendiri. Dalam pertemuan dengan Abraham inilah, kita melihat salah satu contoh terbesar bahwa Allah, dan Allah saja, yang memastikan keberhasilan perjanjian itu.
Kita pertama membaca tentang Abraham dan janji-janji yang diberikan kepadanya dalam Kejadian 12:1-3. Tuhan sendiri turun ke tanah kafir, dan kemungkinan besar, keluarga kafir, dan memanggil Abram (ayat 1). Bahkan, sebelum perjanjian itu secara resmi diberlakukan, kasih karunia Allah sedang bekerja untuk menebus sebuah bangsa yang telah dipilih-Nya. Abram dijanjikan suatu negeri yang baik (ayat 1), suatu bangsa yang besar, nama besar, dan berkat besar yang akan diteruskan dari dia terlebih dahulu (ayat 2), dan kemudian ke seluruh bangsa di bumi (ayat 3).
Sekarang, mari kita melompat ke Kejadian 15:1-6, di mana dalam ayat 1 Allah berjanji akan memberikan Abram suatu upah yang sangat besar. Abram sedikit kecewa, bagaimanapun, dan menyiratkan bahwa upah dari Allah itu tidak baik untuk keluarganya karena ia tidak memiliki ahli waris alami (ayat 2-3). Allah menjawab bahwa Abram tidak perlu menjadikan hambanya sebagai ahli warisnya karena dia malah akan diberikan banyak keturunan (ayat 4-5).
Abram percaya bahwa ia akan diberi banyak keturunan dan diperhitungkan benar oleh Allah (15:6). Allah menyatakan Abram benar karena iman Abram kepada Allah yang pasti akan memenuhi janji-janji-Nya. Seperti Abram, Allah menganggap kita benar hanya karena iman kita kepada pribadi dan karya Yesus Kristus. Janji keturunan tidak terpenuhi sampai Abram sudah cukup tua (21:2). Ini menunjukkan kepada kita bahwa Abram harus mengandalkan Allah saja jika janji-janji perjanjian itu akan tergenapi.
Coram Deo
Kita tidak akan pernah mewujudkan kerajaan Allah sendiri. Kita, seperti Abraham, sangat bergantung pada Allah untuk penggenapan semua janji-Nya. Dia akan mewujudkannya dengan atau tanpa kita. Ketika Anda melayani Tuhan, ingatlah bahwa Tuhan dapat mendatangkan kerajaan tanpa Anda, tetapi dengan kasih karunia, Dia berkenan untuk memakai Anda juga.
Ayat-ayat untuk studi lebih lanjut
Keluaran 2:23?├Â?├º??25
Yesaya 1:25?├Â?├º??27
Yohanes 8:56?├Â?├º??58
Galatia 3:29
(t/Jing Jing)
Diterjemahkan dan disunting dari:
| Nama situs | : | Ligonier.com |
| Alamat URL | : | http://www.ligonier.org/learn/devotionals/abrahamic-covenant-i/ |
| Judul asli artikel | : | Abrahamic Covenant I |
| Penulis | : | tidak dicantumkan. |
| Tanggal akses | : | 22 November 2013 |
Edisi e-JEMMi
Kolom Publikasi
- Log in to post comments
- Perjanjian Abrahamik
- Kasih Karunia (Grace)
- Iman (Faith)
- Kedaulatan Allah (Sovereignty of God)
- Janji Ilahi
- Penebusan
- Perjanjian Abrahamik merupakan bagian dari rencana penebusan Allah yang diwujudkan melalui kasih karunia-Nya, bertujuan untuk memperbaiki pelanggaran yang dilakukan Adam.
- Allah menjanjikan kepada Abraham tidak hanya sebuah bangsa dan negeri, tetapi juga berkat universal yang akan diterima oleh semua kaum di muka bumi.
- Keberhasilan perjanjian ini sepenuhnya berada dalam tangan Allah, menunjukkan bahwa Allah berdaulat dan mampu mewujudkan janji-Nya terlepas dari kemampuan manusia.
- Menurut perjanjian ini, manusia dihitung benar (dinyatakan adil) di hadapan Allah hanya melalui iman, sebuah prinsip yang diaplikasikan juga melalui iman kepada Yesus Kristus.
- Manusia harus menyadari ketergantungan total pada Allah (Coram Deo), sebab hanya Allah yang mampu mewujudkan kerajaan dan janji-Nya.
Artikel ini menjelaskan tentang Perjanjian Abrahamik, sebuah perjanjian kasih karunia ilahi yang dimulai setelah kejatuhan Adam, ketika seluruh umat manusia terpisah dari kemurahan Allah. Perjanjian ini menyoroti bagaimana Allah akan menggunakan Abraham untuk mewujudkan rencana penebusan-Nya. Allah berjanji kepada Abraham suatu negeri, bangsa yang besar, nama besar, dan berkat yang tidak hanya terbatas untuk keturunannya tetapi juga untuk seluruh bangsa di muka bumi. Penting ditekankan bahwa perjanjian ini adalah manifestasi kasih karunia Allah yang mutlak, yang berarti keberhasilan perjanjian tersebut bergantung sepenuhnya pada Allah sendiri, bukan pada usaha manusia. Selain itu, artikel ini menekankan bahwa kebenaran (righteousness) di hadapan Allah diperoleh melalui iman, seperti halnya Abraham yang dinyatakan benar karena imannya, dan hal ini sejajar dengan konsep penebusan melalui Yesus Kristus. Oleh karena itu, manusia diajak untuk hidup dalam ketergantungan penuh kepada Allah (Coram Deo).