Pada dasarnya, dunia ini terus-menerus mengalami perubahan dan secara insting manusia bereaksi terhadap perubahan tersebut. Perubahan adalah keharusan, dan bereaksi terhadap perubahan adalah sifat dasar manusia. Dari detik ke detik, perubahan terus berlangsung, setidaknya perubahan dalam ukuran waktu. Hari ini tidak akan sama dengan hari esok dan hari kemarin tidak akan sama dengan hari ini, demikian seterusnya.

Bertahan terhadap perubahan merupakan reaksi normal manusia karena pada dasarnya bertahan dalam banyak hal, merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kemapanan diri. Penolakan terhadap perubahan biasanya muncul apabila perubahan yang terjadi dianggap mengancam eksistensi dan keselamatan. Namun, dalam banyak hal, sebenarnya perubahan itu sendiri ternyata lebih baik dijalani ketimbang dihindari. Lebih tegas lagi, perubahan memang tidak bisa dihindari. Menyikapi perubahan adalah hal yang berat, sekalipun perubahan itu terjadi dalam rangka menuju ke arah yang lebih baik. Manusia cenderung menghindari perubahan dan lebih menyukai kemapanan.
Yesus menggagas perubahan dalam konsep talenta (Matius 25: 14-30). Dalam perumpamaan tersebut, Yesus dengan jelas menceritakan dan mengajarkan tentang makna dan tujuan perubahan. Tampak dalam ilustrasi tersebut sifat dasar manusia dalam menghadapi perubahan, yakni radikal, gradual, dan statis. Ketakutan terhadap perubahanlah yang menyebabkan si penerima satu talenta mengembalikan talentanya; ia merasa lebih menikmati kemapanannya. Akan tetapi, meskipun ada sebagian orang yang menolak perubahan, tetapi pada dasarnya sebagian besar manusia menginginkannya.
Allah ingin agar kita menyerahkan secara total seluruh rencana hidup kita ke bawah otoritas-Nya. Di sinilah, kita sering tergelincir sebab kita kurang meyakini rencana Allah terhadap perubahan hidup kita. Mengapa ini bisa terjadi? Karena kedagingan kita masih menghasilkan berbagai pikiran dan gagasan yang manusiawi. Di samping itu, Iblis pun sangat gigih untuk memengaruhi jalan pikiran kita.
| Diambil dari: | ||
| Judul majalah | : | Kalam Hidup, Januari 2007 |
| Penulis | : | Drs. Elisa B. Surbakti, M.A. |
| Penerbit | : | Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2007 |
| Halaman | : | 12 |
- Printer-friendly version
- Log in to post comments
- Perubahan (Change)
- Kemapanan (Stability/Comfort Zone)
- Resistensi Perubahan (Resistance to Change)
- Penyerahan Diri (Surrender)
- Talenta (Talent)
- Perubahan adalah kondisi yang terus menerus terjadi dan tidak dapat dihindari dalam kehidupan.
- Secara naluriah, manusia cenderung menolak perubahan dan merasa nyaman dalam kemapanan karena hal itu adalah reaksi yang paling aman bagi eksistensi diri.
- Meskipun sulit, perubahan harus diterima karena pada dasarnya perubahan membawa kebaikan dan merupakan keniscayaan hidup.
- Kisah perumpamaan talenta mengajarkan bahwa rasa takut terhadap perubahan dapat menyebabkan stagnasi atau penyesalan.
- Keimanan sejati menuntut manusia untuk menyerahkan seluruh rencana hidup secara total kepada otoritas Tuhan, melampaui keterikatan pada kenyamanan duniawi.
Artikel ini membahas bahwa perubahan adalah suatu keniscayaan dalam hidup manusia, sementara naluri dasar manusia cenderung bereaksi dengan menolak perubahan dan lebih menyukai kemapanan atau kestabilan. Penolakan ini umumnya muncul karena adanya rasa takut atau ketika perubahan dianggap mengancam eksistensi. Melalui perumpamaan tentang talenta, penulis menekankan bahwa meskipun menyikapi perubahan itu berat, seharusnya manusia merangkulnya karena perubahan itu sendiri membawa kebaikan. Secara spiritual, artikel ini mengingatkan bahwa untuk benar-benar menerima rencana Tuhan, kita harus berani melepaskan kenyamanan kemapanan hati dan menyerahkan total seluruh rencana hidup kita kepada otoritas-Nya, mengatasi godaan dari kedagingan dan pengaruh negatif.