John Stott

John Stott

John Robert W. Stott

Nama Panggilan: John Stott

Masa Hidup: 1921 — 2011

Latar Belakang

John Stott adalah teolog dan pemimpin gereja asal Inggris yang menjadi tokoh sentral dalam gerakan Injili (Evangelikal) global abad ke-20. Sepanjang pelayanannya, ia berupaya menjembatani kesenjangan antara iman Kristen dan dunia modern. Ia dikenal sebagai pembela Alkitab yang gigih namun tetap terbuka terhadap isu-isu sosial, menjadikannya salah satu pemikir Kristen yang paling dihormati di dunia akademis maupun pelayanan praktis.

Warisan Pelayanan

Kontribusi terbesarnya mencakup peran kunci dalam penyusunan Perjanjian Lausanne 1974, yang mendefinisikan ulang misi penginjilan dunia dengan menyertakan tanggung jawab sosial. Melalui lebih dari 50 karya tulisnya, Stott memerangi anti-intelektualisme dan menginspirasi jemaat untuk melakukan "Double Listening"—mendengarkan Firman Tuhan sekaligus mendengarkan konteks dunia. Warisannya tetap hidup melalui institusi seperti Langham Partnership yang terus memperlengkapi pemimpin gereja di seluruh dunia.

  • John Stott
  • Teolog Injili
  • Perjanjian Lausanne
  • Misi Penginjilan Global
  • Double Listening
  • Konteks Sosial
  • John Stott adalah teolog dan pemimpin gereja Inggris yang menjadi figur penting dalam gerakan Injili (Evangelikal) global.
  • Ia dikenal karena upayanya yang gigih menjembatani kesenjangan antara ajaran iman Kristen dan isu-isu yang dihadapi dunia modern.
  • Peran kontribusinya yang paling menonjol adalah dalam penyusunan Perjanjian Lausanne 1974, yang memperluas fokus misi penginjilan dengan dimensi tanggung jawab sosial.
  • Stott menganjurkan prinsip "Double Listening," yaitu mendengarkan Firman Tuhan sekaligus mendengarkan kebutuhan dan konteks dunia.
  • Warisan intelektualnya berfokus pada melawan anti-intelektualisme dan diwariskan melalui institusi seperti Langham Partnership.

John Robert W. Stott adalah teolog dan pemimpin gereja Inggris terkemuka (1921–2011) yang dikenal sebagai tokoh sentral dalam gerakan Injili global abad ke-20. Ia memiliki reputasi sebagai pembela Alkitab yang gigih namun tetap terbuka terhadap isu sosial, berupaya menjembatani kesenjangan antara iman Kristen dan konteks dunia modern. Kontribusi utamanya meliputi peran kunci dalam Perjanjian Lausanne 1974, yang memperbarui definisi misi penginjilan dengan memasukkan tanggung jawab sosial. Stott juga memerangi anti-intelektualisme dan menganjurkan konsep "Double Listening," yaitu mendengarkan Firman Tuhan sekaligus mendengarkan realitas konteks dunia.