It's Time to Mission

Dalam salah satu seminar misi dunia, Dr. Samuel Excobar pernah berkata: "Setelah menganalisis kondisi dunia, maka saya berkeyakinan bahwa tidak ada masa yang lebih tepat untuk bermisi, kecuali di abad ini." Pengertian misi di sini mencakup tiga konsep dasar:

  1. Misi berkaitan dengan menjadi umat dan komunitas yang menjadi model. Melakukan misi bukan harus pergi ke suatu tempat atau melakukan suatu pekerjaan tertentu. Tetapi misi haruslah mencakup keseluruhan hidup kita (being), tidak hanya pada apa yang kita lakukan (doing). Panggilan kepada Israel adalah agar bangsa-bangsa di dunia mengenal Allah Israel. Israel dipilih sebagai model yang menarik bagi bangsa-bangsa lain. Nabi Yesaya mengatakan: "Aku akan membuat Engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang daripada-Ku sampai ke ujung bumi." (Yesaya 49:6) Allah memilih kita sebagai umat Allah untuk menjadi kesaksian bagi dunia melalui hidup dan perbuatan kita. Dalam pemberitaan Injil, yang penting bukan hanya Injilnya (Injil harus diberitakan dengan benar, utuh, jelas, dan baik), tetapi juga pemberitanya. Hidup kita harus membangkitkan pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang belum percaya.
  2. Misi berkaitan dengan perintah Tuhan yang menjadi fungsi eksistensi kita. Bermisi bukanlah panggilan khusus Tuhan kepada para utusan Injil atau hamba Tuhan. Bermisi juga bukan merupakan alternatif untuk mengisi hidup atau salah satu pilihan hidup. Bermisi adalah tugas dari Tuhan kepada setiap anak-anak-Nya: "pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu."(Matius 28:19-20) Kita dipanggil untuk menyatakan kasih Allah yang utuh kepada dunia. Inilah dasar keberadaan kita di dunia.
  3. Misi berkaitan dengan menjadi garam dan terang di tengah masyarakat. Dalam buku "Christian Mission in the Modern World", John Stott menegaskan bahwa umat Allah dipanggil untuk menyatakan kasih Kristus kepada manusia secara utuh. Kita harus mengisi jiwa mereka dengan kasih Allah dan sekaligus mengembangkan kehidupan masyarakat. Umat Allah juga dituntut semakin berperan dalam memengaruhi pola pikir masyarakat modern dengan nilai-nilai kekristenan. Bermisi bukan konsep atau tugas tambahan orang Kristen atau gereja. Tetapi, "missions comes from the heart of God". Ketika Yesus mengundang para murid-Nya yang pertama untuk mengikut Dia (Matius 4:19), Dia meminta mereka untuk membuat komitmen, meninggalkan segala sesuatu, dan mengikut Dia. Marilah kita miliki komitmen untuk melaksanakan misi Allah bagi dunia ini melalui perkataan, pekerjaan, dan hidup kita.

Diambil dari:

Judul buletin : Perkantas News, Tahun IX Edisi 1/2007
Penulis : Daniel Adipranata
Penerbit : Kantor Nasional Perkantas, Jakarta
Halaman : 1

e-JEMMi 09/2012

  • Misi
  • Kesaksian
  • Komitmen
  • Umat Allah
  • Garam dan Terang
  • Misi bersifat holistik, mencakup keseluruhan eksistensi (being) hidup, bukan hanya aktivitas (doing) atau pekerjaan tertentu.
  • Misi adalah tugas universal bagi setiap anak Tuhan, bukan hanya tanggung jawab utusan khusus atau gereja.
  • Seorang percaya dipanggil untuk menjadi kesaksian hidup yang menarik (seperti terang dan garam) bagi bangsa-bangsa, selain memberitakan Injil.
  • Tujuan misi adalah menyatakan kasih Allah secara utuh kepada dunia, baik dengan memenuhi jiwa manusia dengan kasih maupun mengembangkan masyarakat.
  • Pelaksanaan misi menuntut komitmen pribadi yang total, yaitu kesediaan meninggalkan segalanya untuk mengikuti panggilan Kristus.

Artikel ini menjelaskan bahwa misi bukanlah sekadar pekerjaan atau aktivitas, melainkan harus mencakup keseluruhan hidup (being) seorang percaya. Penulis menekankan urgensi panggilan misi di abad ini, menyatakan bahwa menjadi umat Allah berarti menjadi kesaksian hidup bagi dunia—seperti garam dan terang—yang bertujuan menyatakan kasih Allah yang utuh. Misi adalah tugas mendasar bagi setiap anak Tuhan, menuntut komitmen penuh untuk menjadi model dan memengaruhi masyarakat modern, bukan hanya dengan memberitakan Injil yang benar, tetapi juga dengan kualitas hidup pribadi yang menimbulkan pertanyaan tentang kebenaran Allah.