Jauh sebelum istilah "jendela 10-40" ditemukan atau dikenal luas di kalangan pelayanan misi, seorang seniman berbakat berusia tiga puluh empat tahun bernama Isabella Lilias Trotter (1853 — 1928) tiba di Afrika Utara pada tahun 1888 bersama dua orang temannya. Mereka datang tanpa dukungan dari lembaga misi maupun pelatihan resmi. Tetapi begitu tiba, mereka segera mulai belajar bahasa Arab dengan tekad untuk membagikan Injil selama dan seluas mungkin.
Selama empat dekade berikutnya, perempuan yang kreatif dan penuh semangat ini mempersembahkan seluruh hidupnya -- termasuk bakat seni dan kemampuan bahasanya -- demi memperkenalkan Injil di tengah berbagai tantangan. Dalam jurnal-jurnal hariannya, dia menggambarkan kehidupan yang terus-menerus bergantung sepenuhnya pada sumber daya ilahi dari Roh Kudus. [1]
"Kehidupan Lilias Trotter mengguncang cara dunia memaknai kesuksesan, potensi, dan pemenuhan.'
Kehidupan Lilias Trotter mengguncang cara dunia memaknai kesuksesan, potensi, dan pemenuhan. Melalui karya seninya, tulisan-tulisannya, dan kisah hidupnya, kita dapat menangkap sekilas kuasa Kristus yang nyata dalam doa-doa seorang anak yang berserah dan dalam kesaksiannya yang setia. Hari demi hari, dekade demi dekade, catatan hidupnya memperlihatkan sosok yang berjalan dalam kepercayaan penuh kepada Juru Selamat dan menemukan ketenangan batin dalam kuasa-Nya -- kuasa yang memberi kemenangan atas dosa dan kegelapan.
Keberhasilan Lilias bukan sesuatu yang bisa dihitung dengan angka. Tetapi keberhasilannya tampak dalam bagaimana dia belajar mencintai dan berdoa bagi umat Muslim. Hidupnya menjadi bukti akan nilai tak ternilai dari mengenal dan mengutamakan Kristus di atas segalanya. Pengabdiannya yang mendalam kepada Yesus Kristus menjadi teladan, bukan hanya bagi mereka yang dipanggil menjadi misionaris, tetapi juga bagi siapa saja yang rindu menjalani hidup sepenuhnya untuk kemuliaan Allah.
Menyerahkan Hidupnya
Lilias lahir dalam sebuah keluarga Victoria yang kaya, yang memegang teguh nilai hidup rendah hati di hadapan Allah sebagai prinsip utama. Sejak muda, dia menunjukkan bakat luar biasa dalam seni, hingga menarik perhatian John Ruskin -- kritikus seni ternama era Victoria sekaligus dosen di Oxford. Beberapa lukisannya, termasuk lembaran-lembaran dari buku sketsanya, kini tersimpan di Museum Ashmolean, Oxford, Inggris.
Pada tahun 1874, dia menghadiri sebuah konvensi rohani selama enam hari yang menekankan pentingnya menerapkan Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari -- sebuah dorongan yang memperdalam kerinduannya akan keintiman pribadi dengan Tuhan. Dalam momen itu, dia mengalami pembaruan spiritual, baik dalam ibadah pribadi maupun bersama. Panggilan untuk mengikuti Kristus secara penuh dalam ketaatan datang saat sesi doa berlangsung. Dalam jurnalnya, dia menulis: "Menyandang nama-Nya, dengan segala makna yang terkandung di dalamnya -- keharuman, kesembuhan, dan kuasa -- serta masuk ke dalam tujuan kekal-Nya, adalah panggilan yang membuat segalanya layak dianggap sebagai kerugian." [2]
Sejak saat itu, alih-alih mengarahkan hidupnya yang luar biasa kepada hal-hal duniawi, Lilias digerakkan oleh kerinduan yang mendalam kepada Sang Juru Selamat dan dunia yang dikasihi-Nya. Dalam semangat ketaatan yang radikal, dia menanggalkan karier seni yang menjanjikan -- yang pernah ditawarkan oleh Ruskin -- dan meninggalkan kenyamanan hidup di Inggris demi menjalani pelayanan misionaris di Aljazair.
"Dalam semangat ketaatan yang radikal, dia menanggalkan karier seni yang menjanjikan ... dan meninggalkan kenyamanan hidup di Inggris demi menjalani pelayanan misionaris di Aljazair."
Berdoa dengan Semangat
Doa syafaat Lilias Trotter bagi masyarakat Aljazair menjadi sumber inspirasi bagi siapa pun yang merindukan seluruh bangsa datang menyembah Allah. Dia sering mengasingkan diri dalam waktu-waktu panjang di perbukitan yang menghadap kota Aljir -- tempat dia berdoa dengan sungguh-sungguh sambil mengarahkan pandangannya kepada Yesus, kepada firman-Nya, dan kepada penyataan-Nya dalam ciptaan. Dari sana, dia menyaksikan ombak yang bergulung, didorong oleh denyut samudra, menghantam pantai di teluk. Sambil merenungkannya, dia menantikan dengan iman datangnya "air pasang Allah" yang akan menyapu dunia Muslim.
Lilias hidup sezaman dengan Samuel Zwemer, seorang misionaris besar yang dikenal karena pelayanannya di tengah umat Muslim. Dari Zwemer, dia banyak belajar tentang kuasa doa -- doa yang sanggup menembus tabir kegelapan yang menyelimuti hati, dan doa yang menjadi senjata dalam pertempuran rohani demi jiwa-jiwa yang diperdaya oleh si musuh. Ketekunannya dalam berdoa menjadi teladan yang menggugah bagi siapa pun yang hari ini terus bersyafaat, menantikan gelombang pasang dari Allah melanda bumi dan menyingkap selubung kegelapan.
Dalam tulisannya, Lilias Trotter menyadari betapa besar daya musuh untuk menawan orang yang tidak percaya -- melalui ketidakpercayaan mereka sendiri -- dan bagaimana dia bekerja untuk menghalangi kebenaran yang memberi hidup agar tidak sampai kepada mereka. Dia berseru dalam doa, agar umat Kristen memohon kepada Allah untuk melakukan pekerjaan yang baru di tengah bangsa-bangsa yang hatinya begitu tertutup, dan agar api Roh Kudus membakar penghalang-penghalang beku itu sampai luluh, lalu membebaskan banyak jiwa! [3]
Memberitakan Firman Allah dengan Penuh Kuasa
Dengan keberanian dan kreativitas dalam bersaksi, Lilias mengamati lingkungan sekitarnya dan belajar bagaimana menyampaikan Injil secara efektif kepada tetangga-tetangganya di Aljazair. Pada tahun 1919, dia mulai menulis traktat bagi Nile Mission Press. Dia juga membantu seorang misionaris asal Swedia dalam menerjemahkan dan menyunting Injil Lukas dan Yohanes ke dalam bahasa Arab sehari-hari -- "ke dalam bahasa yang bisa dibacakan oleh seorang ibu Arab kepada anaknya."[4] Selain itu, dia menulis kisah-kisah bergaya perumpamaan yang mudah dipahami dan menyentuh hati pembacanya. Kisah-kisah ini dia ilustrasikan secara kreatif dengan gaya Timur, dan karya-karya tersebut tersebar luas.
Kisah hidup Lilias Trotter terus menginspirasi dan menggerakkan mereka yang merindukan hari ketika semua bangsa menyembah di sekitar takhta Kristus. Dia mempersembahkan hidup dan talenta yang dimilikinya, dan membiarkan Kristus memakai dirinya dengan cara-cara yang penuh kreativitas dan pembaruan. Hidupnya ditandai oleh doa yang penuh semangat, ketergantungan total pada kuasa Allah yang mengalahkan, serta keyakinan dalam memberitakan firman yang memberi hidup. Kesaksian hidupnya mengajak banyak orang untuk mengikuti jejaknya -- menguduskan hidup mereka bagi "pekerjaan yang paling sulit dan bagi orang-orang berdosa yang paling gelap."[5]
Paula Hemphill dan suaminya, Ken, telah melayani bersama selama lima puluh tahun. Sebagai istri seorang pendeta muda, Paula tersentuh oleh kisah-kisah para perintis misi di Afrika Utara -- kisah-kisah yang menanamkan dalam hatinya panggilan untuk berdoa seumur hidup bagi umat Muslim. Keluarga Hemphill dikaruniai tiga putri yang semuanya telah menikah, dan mereka kini menikmati kehadiran dua belas cucu.
Catatan Akhir: Untuk mengenal lebih jauh sosok Lilias Trotter, Anda dapat menyaksikan film dokumenter Many Beautiful Things: The Life and Vision of Lilias Trotter (Oxvision Films, 2016), atau membaca biografi mendalam karya Miriam Huffman Rockness berjudul "A Passion for the Impossible" (Discovery House, 2003).
Catatan Kaki:
[1] Salah satu entri dalam jurnal Lilias kemudian menjadi inspirasi bagi lagu pujian populer Turn Your Eyes upon Jesus, yang ditulis oleh Helen H. Lemmel. Kutipan tersebut berbunyi: "Arahkan pandangan jiwamu sepenuhnya kepada Yesus -- tataplah Dia terus-menerus -- dan akan muncul suatu keremangan aneh atas segala sesuatu yang terpisah dari-Nya. Maka sifat-sifat ilahi yang membentuk orang-orang kudus Allah, bahkan di abad ke-20, akan mulai menguasai hidupmu." (Sumber: I.R. Stewart, "The Love that Was Stronger: Lilias Trotter of Algiers", London: Lutterworth Press, 1958, hlm. 54.)
[2] Ibid, 19.
[3] Ibid, 293.
[4] Ibid, 52.
[5] Ibid, 96.
(t/Jing-jing)
|
Diambil dari: |
||
|
Nama situs |
: |
International Mission Board |
|
Alamat artikel |
: |
https://www.imb.org/2019/06/12/missionaries-you-should-know-lilias-trotter/ |
|
Judul asli artikel |
: |
Missionaries You Should Know: Lilias Trotter |
|
Penulis artikel |
: |
Paula Hemphill |
Kolom Publikasi
- Log in to post comments